Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata yaitu prestasi dan belajar. Antara kata prestasi dan belajar mempunyai arti yang berbeda. Oleh karena itu, sebelum pengertian prestasi belajar, ada baiknya pembahasan ini diarahkan pada masing-masing permasalahan terlebih dahulu untuk mendapatkan pemahaman lebih jauh mengenai makna kata prestasi dan belajar. Hal ini juga untuk memudahkan dalam memahami lebih mendalam tentang pengertian prestasi belajar itu sendiri. Di bawah ini akan dikemukakan beberapa pengertian prestasi dan belajar menurut para ahli.

Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun secara kelompok (Djamarah, 1994:19). Sedangkan menurut Mas’ud Hasan Abdul Dahar dalam Djamarah (1994:21) bahwa prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja[1].

Dari pengertian yang dikemukakan tersebut di atas, jelas terlihat perbedaan pada kata-kata tertentu sebagai penekanan, namun intinya sama yaitu hasil yang dicapai dari suatu kegiatan. Untuk itu, dapat dipahami bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati, yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara individual maupun secara kelompok dalam bidang kegiatan tertentu.

Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan dan sikap. Belajar dimulai sejak manusia lahir sampai akhir hayat dan merupakan proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang[2]. Sedangkan menurut W.S. Winkel mengatakan bahwa belajar pada manusia adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang menghasilkan perubahan, perubahan dalam pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Perubahan itu bersifat konstan dan berbekas[3]. Dalam hal ini, belajar mensyaratkan adanya perubahan pada diri tiap individu yang belajar.

Dalam buku yang lain, belajar diartikan sebagai serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman indivudu dan interaksi dengan lingkungan yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotorik[4]. Jadi, dalam menjalankan proses belajar hendaknya tidak hanya mengacu pada satu ranah saja, melainkan harus mengkolaborasikan antara berbagai macam ranah demi tercapainya hasil belajar yang optimal.

Sedangkan Shaleh Abdul Azis dan Abdul Majid dalam kitab Attarbiyah wa Turuqu Tadris, mendefinisikan belajar sebagai perubahan dalam diri peserta didik berdasarkan pengalaman masa lalu, sehingga tercipta perubahan yang baru. Berikut adalah kutipan pendapat beliau sesuai yang terdapat dalam kitab Attarbiyah wa Turuqu Tadris:         أن التعلم هوتغيير في ذهن المتعلم يطرأ على خبرة سابقة فيحدث فيها تغييرا جديدا[5].

Dengan demikian dapat dik­atakan bahwa belajar merupakan rangkaian kegiatan jiwa raga atau psiko-fisikuntuk menuju ke arah perkembangan pribadi manusia seutuhnya yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa, ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.


[2]Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jogjakarta: Arruzz, 2007), hlm. 11.

[3].  W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, (Jakarta: Gramedia, 1989), hlm. 16.

[4]Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 141.

[5]Shaleh Abdul Azis dan Abdul Azis Abdul Majid, At-Tarbiyah wa Turuqu Tadris, (Mesir: Darul Ma’arif), hlm. 169.

About these ads
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: